Amaliyah, Hadis, Riwayat

Allah Rindu Dengan Rengekan Doa Hamba

majalahnabawi.com – Dalam bingkai pemikiran Ahlusunah Waljamaah, doa memberikan manfaat bagi yang melakukannya, dan pasti Allah kabulkan. Terlebih jika doa tersebut dipanjatkan oleh orang yang terzalimi, sebagaimana di dalam sebuah hadis:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ، فَقَالَ: اتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi Saw mengutus Muadz ke negeri Yaman. Lalu beliau bersabda: “Takutlah doa orang yang terzalimi, karena antara doanya dan Allah tidak ada penghalang”. (HR. al-Bukhari)

Pendoa harus menjalani beberapa syarat dan adab ketika berdoa. Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam kitabnya Tuḥfah al-Murîd A’lâ Jawharah al-Tawhîd menjelaskan beberapa syarat berdoa, yaitu seseorang hanya mengkonsumsi yang halal, dirinya yakin bahwa doanya bisa dikabulkan, hatinya tidak dalam keadaan lalai, dsb. Adapun adab-adab berdoa di antaranya; menghadap kiblat, didahului beratubat kepada Allah Swt., diawali dan diakhiri dengan membaca hamdalah dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Doa menjadi salah satu tema sentral dalam kajian tasawuf. Selain membahas norma-norma doa, kitab-kitab tasawuf juga sering menceritakan kisah doa dan para pelakunya, bahkan menuturkan kisah yang tergolong “unik’. Salah satunya seperti riwayat berikut ini.

Hikayat Doa

Dikutip dari kitab Hikâyât  al-Ṣûfiyyah karangan Muḥammad Abû Yusr Â’bidîn (Kisah ini juga bisa ditemukan lebih awal dari kitab tafsir Rûḥ al-Bayân karya Syekh Ismail Ḥaqqi), bahwa suatu hari Bagdad sedang dilanda kemarau yang hebat. Menanggapi hal tersebut, Khalifah yang menjabat saat itu, memerintahkan kaum muslim untuk melaksanakan istisqa (Meminta hujan kepada Allah Swt. dengan cara yang khusus, ketika dibutuhkan ). Setelah melakukan hal tersebut, hujan tak kunjung turun menyirami negeri tersebut. Pada akhirnya, sang Khalifah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk istisqa. Tak lama mereka keluar dan melakukannya, hujan turun dan membasahi tanah kering di daerah itu.

Baca Juga:   Mendoakan Orang Kafir

Melihat hal tersebut, tentu sang Khalifah kebingungan. Bagaimana bisa hal tersebut bisa terjadi. Allah Swt lebih cepat mengabulkan doa orang-orang Yahudi, ketimbang hamba-hamba-Nya yang muslim. Akhirnya, Khalifah memanggil para ulama muslim dan menanyakan fenomena tersebut. Muncullah seorang yang bernama Sahl bin Abdullah. Ia berkata: “Wahai Amirulmukminin!, mereka (orang-orang Yahudi) dibenci dan dilaknat oleh Allah Swt. Oleh karena itu, Allah Swt segera mengabulkan doa mereka, supaya mereka lekas berpaling dari hadapan-Nya. Sedangkan, Allah Swt senang mendengar doa dan permohonan sungguh-sungguh yang berasal dari hamba-Nya yang muslim, sehingga mengakhirkan jawaban dari doa mereka”.

Banyak hikmah yang kita bisa petik dari kisah di atas. Di antaranya; selalu berprasangka baik kepada Allah Swt, dan yakin akan dikabulkan doa kita, walaupun terkadang tidak  segera. Jika memang tidak dipenuhi bagi diri kita, mungkin jawaban tersebut diperuntukkan untuk generasi setelah kita, atau diganti dengan hal yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.