Artikel Utama

Hikmah Puasa Ramadhan

Faiz Aidin Written by Faiz Aidin · 2 min read

majalahnabawi.comKita harus memaksimalkan berpuasa dan mengisi waktu Ramadhan dengan amalan-amalan shaleh, baik ibadah mahdlah (individual) maupun ghair mahdlah (ibadah sosial).

Allah mewajibkan dan menciptakan sesuatu pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak ada kesia-siaan bagi sesuatu yang diciptakan-Nya. Allah berfirman dalam al-Quran surah Ali Imran ayat 191 dan surah al-Mu’minun ayat 115:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini secara batil (sia-sia). Maha Suci-Mu, maka jagalah kami dari siksa neraka.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَـاكُمۡ عَبَثًا وَّأَنَّكُمْ إِلَیْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ

Apakah kamu mengira bahwa Kami (Allah) menciptakanmu secara sia-sia?, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?.

Waktu Disyariatkan Puasa Ramadhan

Allah mewajibkan puasa kepada umat Islam pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriah. Kenapa di bulan Sya’ban? tidak langsung di bulan Ramadhan. Mungkin, hikmahnya agar umat Islam mempersipkan diri untuk menjalankan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Persiapan tersebut bisa berupa menahan makan, minum, syahwat, dan amarah. Sehingga ketika datang bulan Ramadhan, umat Islam sudah siap lahir dan batin untuk berpuasa.

Beberapa Hikmah Puasa Ramadhan

Puasa telah diwajibkan kepada umat sebelum umat Nabi Muhammad, bedanya hanya dari segi waktu pelaksanaannya saja.

Allah mewajibkan puasa Ramadhan sebulan penuh kepada umat Nabi Saw bukan untuk hal sia-sia atau membebankan umat Islam. Tapi di balik puasa Ramadhan, terkandung banyak hikmah baik untuk pribadi maupun untuk sosial masyarakat.

Di antara hikmah puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:

1. Puasa mengajari kita agar senantiasa takut kepada Allah, baik dalam keadan ramai maupun sendiri. Allah berfirman dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 183

Baca Juga:   Kurma, Santapan Terbaik Untuk Berbuka

یَـٰأَیُّهَا الَّذِینَ أٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَیْكُمُ الصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan berpuasa atas kalian sebagaimana diwajibkan puasa atas orang-orang sebelum kalian agar (pasti) kalian menjadi bertakwa.

Takwa merupakan hikmah sekaligus tujuan orang berpuasa yang paling tinggi, jika dia berpuasa dengan baik, benar dan ikhlas.

2. Puasa mengajari kita untuk mengekang sahwat farji (kelamin) maupun perut. Dengan berpuasa, sahwat akan menurun dan otak akan lancar berpikir dan menghafal. Ada hadis riwayat Alqamah bin al-Aswad yang berbunyi

عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَمْشِيْ مَعَ عَبْدِ اللّٰهِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، فَقَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ؛ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، مُسْلِمٌ، أَبُوْ دَاوُدَ، التِّرْمِذِيُّ، النَّسَائِيُّ، ابْنُ مَاجَهْ، الدَّارِمِيُّ، وَأَحْمَدُ)

Dari Alqamah bin al-Aswad berkata: Ketika saya berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: Dahulu kami bersama Nabi Saw, lalu beliau bersabda: “Orang yang mampu lahir batin maka nikahlah, karena sungguh nikah itu dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Orang yang belum mampu nikah, maka hendaklah dia senantiasa berpuasa, karena sungguh puasa itu perisai baginya“.

Mengasah Kepekaan Sosial dan Merendahkan Hati

3. Jiwa kepekaan kita akan terasah, di mana ketika kita sangat lapar dan haus, maka kita akan merasakan betapa sulit dan sakitnya orang-orang miskin yang mungkin tidak makan berhari-hari. Sehingga kita berempati dan bersipati kepada selain kita untuk selalu berbagi dan membantu.

4. Dalam berpuasa, kita melihat kesetaraan antara orang kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat. Semuanya wajib melaksanakan puasa Ramadhan tanpa terkecuali. Wong Nabi Muhammad Saw yang mulia dan sepaling bertakwanya makhluk saja wajib berpuasa Ramadhan, apalagi kita yang penuh dosa. Kita harus memaksimalkan berpuasa dan mengisi waktu Ramadhan dengan amalan-amalan shaleh, baik ibadah mahdlah (individual) maupun ghair mahdlah (ibadah sosial).

Baca Juga:   Tafsir Ulama Klasik Tentang Musik dalam QS. Luqman: 6

Hikmah-hikmah di atas, penulis kutip beberapa kalimatnya dari buku Ramadan Bersama Nabi Saw karya guru kita Ustaz Ulin Nuha Mahfudhon. Itulah beberapa hikmah puasa yang penulis ketahui, masih banyak lagi hikmah yang belum tersingkap.

Setelah mengetahui hikmah puasa di atas, semoga kita memaksimalkan puasa Ramadhan ini dengan penuh ibadah dan kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain. Aamiiin

Maksimalkan ibadah Ramadhan kita, bayangkan seakan-akan bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir untuk kita agar kita berusaha memaksimalkannya. Karena belum tentu kita bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Ramadhan akan tetap ada sampai kiamat, tapi umur kita ada batasnya dan akan berakhir sesuai ajalnya.

Semoga Allah menerima segala amal kita, khususnya di bulan Ramadhan ini, dan semoga Allah sampaikan kita di bulan Ramadhan mendatang dan seterusnya. Aamiiin

Written by Faiz Aidin
Dilahirkan tanggal 25 Juni 2000 di Jakarta Barat, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan H. Muharifin dan Hj. Nurhayati, bertempat tinggal di jalan raya Kembangan, Kembangan Utara Rt 09/02 No. 83 Gang H. Naim, Kembangan, Jakarta Barat. Mahasantri Darus-Sunnah angkatan Auliya dan mahasiswa PAI FITK UIN Jakarta. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.