pemikiran, Tokoh

Pemikiran Kyai Ali Mustafa Mengenai Wahabi dan NU

Majalahnabawi.com – Salah seorang muazin Masjid Istiqlal Jakarta menyampaikan kepada Bapak KH. Ali Mustafa Yaqub selaku Imam Besar Masjid Istiqlal pada saat itu, bahwasanya terdapat seseorang yang mengatakan kepada sang muazin, bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal adalah penganut Wahabi, setelah ditanyakan apa landasan orang tersebut berkata demikian. Jawabannya adalah karena Imam Besar Masjid Istiqlal saat menyampaikan ceramahnya senantiasa berlandaskan kepada al-Quran dan Hadis. Selaras dengan hal tersebut, perkataan Imam al-Syafi’i saat dituduh sebagai pengikut Rafidhah (Syiah) karena mencintai keluarga Nabi Muhammad Saw, beliau berkata: “Seandainya Rafidhah itu artinya mencintai keluarga Muhammad, maka manusia dan jin agar menyaksikan bahwa aku adalah Rafidhah”.

Berlandaskan pada perkataan Imam al-Syafi’i, KH. Ali pun berkata: ”Alhamdulillah, apabila berpedoman kepada al-Quran dan Hadis itu disebut Wahabi, maka manusia dan jin agar menyaksikan bahwa kami adalah Wahabi.”

Mengenal Wahabi 

Secara bahasa, wahabi adalah kata yang dinisbatkan kepada Abdul Wahhab, yang merupakan ayah dari Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab. Wahabi adalah paham keagamaan yang dibawa oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab di Jazirah Arab. Ajaran agama ini memadukan metode salafi dalam bidang akidah dan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal untuk bidang fikih. Pada dasarnya, para pengikut ajaran ini menamakan diri mereka dengan nama al-muwahhidun (orang yang bertauhid). Lantas dari mana asal kata wahabi?

Orientalis pada masa terdahulu menggunakan istilah wahabiyah, wahabi, atau wahabiyun dalam karya-karya mereka untuk mencirikan gerakan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta pengikutnya. Sebagian orientalis beranggapan bahwa penamaan tersebut bersumber dari mereka yang tidak suka dengan keberadaan paham ajaran tersebut. Kaum orientalis yang mengimplementasikan istilah wahabiyah terbagi menjadi dua kelompok:

  1. Kelompok yang menggunakan nama ini untuk mengadopsi pemikiran yang mengarah pada penghinaan dakwah Islam.
  2. Kelompok yang menggunakan nama ini karena berpandangan bahwa istilah tersebut lebih cocok daripada istilah lainnya.
Baca Juga:   Menjunjung Khidmat di Era Milenial

Mengenal Nahdlatul Ulama 

Istilah Nahdlatul Ulama (NU) digunakan untuk dua pengertian:

Jam’iyyah (organisasi) yang diprakarsai oleh Imam Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah.

Paham keagamaan yang dibawa oleh Imam Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah berupa ajaran agama Islam yang memadukan mazhab Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam bidang akidah dan mazhab Imam al-Syafi’I dalam bidang fikih.

Penyebab Kerenggangan Wahabi-NU

Tidak dapat dipungkiri, banyak dari masyarakat yang beranggapan bahwa Wahabi dan NU berada pada ranah yang berbeda layaknya air dan minyak. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan adanya kerenggangan di antara keduanya. Faktor tersebut terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

Adapun beberapa faktor internal tersebut, meliputi:

  1. Mengambil informasi dari sumber yang tidak terpercaya.
  2. Analogi dan vonis yang keliru.

Sedangkan faktor eksternal tersebut, yakni:

  1. Peran zionisme
  2. Peran aliran-aliran sesat.

Tujuan di balik semua itu ialah untuk memecah belah umat Islam dan merobek-robek persatuan Wahabi dan NU. Target zionisme dan aliran-aliran sesat ini sama, karena semua kekafiran adalah satu agama.

Titik Temu Wahabi-NU

Faktanya, antara Wahabi dan NU sendiri terdapat persamaan. Persamaan tersebut terdapat dalam bidang pokok agama (al-ushul al-diniyyah), ada pula dalam bidang cabang agama (al-furu’ al-diniyyah). Berikut beberapa contohnya:

a. Rukun iman dan rukun Islam.

b. Sumber hukum Islam yang berupa al-Qur’an, Hadis, Ijma’, dan Qiyas.

c. Menggunakan Hadis Ahad dalam bidang akidah.

d. Mengikuti mazhab tertentu, yakni mazhab-mazhab fikih yang empat.

e. Sebagai bukti mengimani Hadis Ahad dalam bidang akidah, Wahabi dan NU sama-sama mempercayai adanya siksa kubur dan sifat-sifat penghuni surga.

f. Sebagai bukti pengalaman Ijma’, kalangan Wahabi dan NU sama-sama melaksanakan shalat Jum’at dengan dua kali azan.

Baca Juga:   Resensi Buku: Cara Cermat Mengamalkan Hadis 2

g. Sebagai bukti pengalaman Qiyas, Wahabi dan NU meyakini bolehnya menyampaikan hadiah pahala bagi orang yang sudah meninggal, dan hal itu membawa kemanfaatan untuk mayit.

h. Masing-masing dari Wahabi dan NU insya Allah termasuk dalam sabda Rasulullah Saw mengenai golongan Islam yang selamat, yaitu “Maa ana ‘alaih wa ashhabii” (ajaran yang diamalkan olehku dan para sahabatku), karena keduanya sama-sama berpegang pada al-Quran, Hadis, dan Ijma’ sahabat radhiyallah ‘anhum.

i. Wahabi dan NU sama-sama mencintai Rasulullah Saw, keluarganya, dan seluruh sahabatnya tanpa melebih-lebihkan.

j. Wahabi dan NU berpendapat tidak boleh mengafirkan seorang pun dari umat Islam tanpa adanya perbuatan kafir yang jelas.

k. Wahabi dan NU berkeyakinan akan abadinya surga dan neraka.

Di samping adanya kesamaan antara Wahabi dan NU, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat perbedaan di antara keduanya. Adanya kesamaan tersebut dapat dijadikan sebagai upaya untuk mempersatukan Wahabi dan NU. Fakta berbicara bahwa Wahabi menyambut baik dan mencintai NU, hal ini dapat dilihat dari baiknya sambutan kaum Wahabi kepada santri-santri NU sejak zaman dahulu sampai sekarang ini.

Sumber: Titik Temu WAHABI-NU karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.