Al-Quran

AL-QUR’AN: ANTARA SENI DAN IBADAH

Penulis: Rini Yulia · 3 min read

MajalahNabawi.com- Islam adalah agama fitrah dan sempurna yang diturunkan oleh Allah guna memberikan petunjuk dan rahmat bagi seluruh umat manusia secara universal. Islam berfungsi sebagai agama yang membawa seluruh manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Manusia sebagai khalifah di muka bumi, mengemban tugas untuk merealisasikan sifat-sifat Allah yang tersimpan di dalam 99 Asmaul Husna sesuai dengan kemampuannya tanpa melampaui batas yang dibolehkan oleh-Nya. Nama-nama Allah yang baik tersebut biasanya tertulis dengan sangat indah di halaman awal al-Quran. Dari sinilah manusia bertemu dengan kesenian sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah dan al-Quran.

Di dalam Islam, banyak sekali ditemukan gejala-gejala kesenian. Termasuk di dalam al-Quran. Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam mengandung nilai sastra yang sangat sempurna. Kesenian merupakan fitrah manusia. Setiap orang, muslim atau bukan, akan merasakan betapa tingginya sastra al-Quran. Al-Quran adalah karya seni pertama dalam Islam yang merupakan standar tertinggi keindahan seni umat Islam. Al-Quran merupakan mukjizat Allah kepada Nabi Muhammad saw. Kitab ini bukanlah merupakan karya seni Nabi Muhammmad saw. seperti yang dituduhkan oleh orang-orang kafir. Hal tersebut adalah hikmah dijadikannya Nabi Muhammad sebagaiseorang yang buta huruf untuk menyangkal tuduhan-tuduhan orang kafir tentang al-Quran.

Kemukjizatan al-Quran

Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kemukjizatan al-Quran dengan membuat karya yang sama dengan al-Quran. Hal itupun juga telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 23 :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu meragukan (al-Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Seni dalam Islam merupakan hasil dari pengejawantahan keesaan dalam hal keanekaragaman. Di dalam al-Quran, banyak sekali seni yang dapat dikembangkan baik berkaitan dengan isi, kandungannya, bacaannya maupun tulisannya. Hal itu tidak lain adalah untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada al-Quran. Selain membacanya mendapatkan pahala di sisi Allah, sebagaimana dalam hadis Nabi SAW:

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Dari ‘Abdullah ibn Mas‘ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (al-Quran), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf,” (HR. At-Tirmidzi).

Baca Juga:   Yuk, Menjadi Perempuan Pemalu yang Dirindukan Surga

Keutamaan Ayat al-Quran

Tidak hanya itu, setiap surat bahkan ayat di dalam al-Quran mempunyai keutamaan, kemuliaan dan keistiimewaan tersendiri bagi yang membacanya. Mulai dari surat yang pertama, Al-Fatihah sampai surat yang terakhir, An-Naas mempunyai kemuliaan dan keistimewaan tersendiri. Beragam pahala yang Allah janjikan dan hadiahkan bagi orang-orang yang senantiasa membaca ayat-ayat-Nya.

Seni Bacaan al-Quran

Dalam bentuk bacaan, al-Quran dapat dilantunkan dengan berbagai macam irama (seni membaca Al-Quran). Membaca al-Quran dengan suara yang indah bukan hanya dibolehkan dalam Islam, bahkan dianjurkan. Sebagaimana dalam hadits Nabi SAW:

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Hujr, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Thalhah bin Musharrif dari ‘Abdurrahman bin ‘Ausajah dari Al Barra’ dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Indahkan suaramu dalam membaca al-Quran.” (H.R An-Nasa’i)

Bahkan pada awal diturunkannya, al-Quran mempunyai berbagai macam qiraat (cara baca) disesuaikan dengan logat dan dialek masyarakat saat itu. Itulah yang kita kenal dengan Qiraah Sab’ah (qiraat yang pertama kali muncul) yang telah akrab di dunia akademis sejak abad ke-2 H dan qiraah-qiraah yang lain meskipun semua qiraat itu mengacu kepada bacaan yang disandarkan oleh Rasulullah saw.

Selain itu, hingga saat ini terdapat tujuh ragam bacaan al-Quran yang terkenal di dunia Islam. Ketujuh ragam bacaan tersebut atau yang lebih dikenal dengan nazham, mempunyai kekhasannya masing-masing. Ketujuh bacaan al-Quran tersebut yaitu Bayati, Shoba, Hijaz, Nihawand, Rast, Sika dan Jiharka. Hal itu karena berdasarkan firman Allah swt dalam Q.S. Al-Muzammil: 4

Baca Juga:   Support Allah dalam QS. al-Rahman: 29 ketika Malas

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.”

Seni Tulis al-Quran

Dalam bentuk tulisan, al-Quran dapat dikembangkan dengan berbagai seni. Keindahan al-Quran itu tak hanya terletak pada isi dan kandungannya atau pada seni membaca, namun juga pada seni tulisannya yang dikenal dengan nama khatt atau kaligrafi. Tulisan-tulisan al-Quran ini telah mengilhami banyak orang hingga memunculkan para ahli dalam menulis huruf Arab dan Alquran dengan indah. Sebut saja di antaranya Ibnu Muqlah. Adapun tokoh-tokoh kaligrafi kenamaan pada masa itu antara lain adalah Yahya al-Jamali (Ilkhanid), Umar Aqta (Timurid), Mir Ali Tabrizi Imaduddin al-Husaini (Safawid), serta Muhammad bin al-Wahid (Mamluk). Sementara itu, tokoh-tokoh kaligrafi kenamaan yang hidup semasa Turki Usmani hingga Turki modern adalah Hamdullah al-Amaasi, Ahmad Qarahisari, Hafiz Usman, Abdullah Zuhdi, Hami al-Amidi, dan Hasyim Muhammad al-Bagdadi. Lalu, salah satu tokoh kaligrafi di Indonesia adalah Sirojuddin AR.

Mereka itulah yang mendorong umat muslim bahkan non-muslim untuk mengembangkan seni mereka melalui tulisan al-Quran. Dari mereka inilah, umat Islam banyak mengenal ragam jenis kaligrafi, seperti Farisi, Kufi, Tsuluts, Diwani, Diwani Jali, Riq’ah, Naskh, dan lain sebagainya. Ragam jenis dan corak tulisan kaligrafi ini dipengaruhi oleh budaya lokal saat penyebaran Islam. Misalnya, kaligrafi Farisi (Persia), Kufi (Kufah), dan lainnya. Tidak hanya pada kertas, tulisan al-Quran ini pun sudah banyak mengiasi tempat-tempat ibadah seperti Mesjid dan Mushalla di berbagai negara Islam.

Lebih jauh, dalam bacaan dan tulisannya, seni yang tidak kalah penting dari al-Quran adalah gaya bahasa dan kandungan isinya. Banyak sekali ungkapan-ungkapan yang digunakan di dalam Al-Quran yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya oleh manusia, bahkan ahli bahasa sekalipun. Banyak variasi yang digunakan oleh al-Quran dalam mengungkapkan dan menyampaikan maksudnya, visi al-Quran yang melampaui akal manusia, baik berupa berita gembira, peringatan, petunjuk, perintah-perintah dan larangan-larangan, perumpamaan-perumpamaan, perbantahan-perbantahan, kisah-kisah, serta ilmu pengetahuan modern yang terdapat di dalam al-Quran.
Wallahu a’lam

 

Rini Yulia
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences 2020 dan Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2019 Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.