Al-Quran, Hadis, kesehatan

Bekam Ditinjau dari Tradisi Kenabian; Antara Wahyu dan Budaya #1

Penulis: Amien Nurhakim · 4 min read

Majalahnabawi.com – Beberapa hari yang lalu kami menjalani terapi bekam, alasannya sederhana, hanya untuk coba-coba saja. Tidak ada alasan medis yang mendorong kami untuk mencoba terapi yang umurnya sudah berabad-abad lamanya ini. Berawal dari menonton video-video yang tersebar di Youtube, kami akhirnya tertarik dengan terapi dan pengobatan yang disebut banyak orang adalah ‘Pengobatan Nabi’ atau ‘al-Thibb al-Nabawi‘.

Pertama kami datang, tabib atau orang yang akan melakukan bekam mengajak kami mengobrol ringan, tanpa terasa obrolan tersebut menjadi berat. Ia membicarakan bekam dari banyak sisi, dari medis hingga hadis, dari ayat hingga riwayat. Hal tersebut membuat kami merasa bahwa tabib ini adalah ahli, karena bukan hanya sisi praksis saja yang ia kuasai, namun bangunan teoritisnya juga.

Mendengar obrolan tersebut kami merasa tertarik, apalagi saat menceritakan bekam menurut tinjauan medis, berkali-kali ia menceritakannya dengan disertakan jurnal-jurnal ilmiah yang membuat kami sedikit merasa seakan-akan berbicara dengan orang yang otoritatif. Namun, kala mendengarkan ia berbicara bekam dari tinjauan tradisi kenabian, kami sedikit mengernyitkan dahi.

Tabib tersebut banyak menceritakan bekam dan menempatkannya di peringkat pertama dalam pengobatan, adapun pengobatan medis ala-ala modern adalah tingkatan kedua setelah bekam. Fondasi yang dibangun adalah ayat dan hadis-hadis Nabawi mengenai anjuran bekam. Sehingga dari latar belakang nas-nas tersebut, memunculkan anjuran-anjuran yang bersifat sunah.

Bagi kalangan muslim, kata sunah membuat ketertarikan tersendiri. Dengan mengikuti sunah, maka hal tersebut merupakan bentuk ittibā’ atau mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengamalkan apa yang datang dari beliau berupa perkataan, perbuatan, pernyataan dan sifat. Mungkin dapat kita sebut juga sebagai usaha untuk mengamalkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menciptakan kultur yang ‘Living Sunnah‘.

Dengan latar belakang di atas, kami tertarik untuk mengkaji kembali bekam dari tradisi kenabian, apakah ia masuk dalam kategori wahyu atau warisan budaya, juga apakah ia masuk kategori al-Sunnah al-Tasyrī’iyyah atau al-Sunnah Ghair al-Tasyrī’iyyah.

Mengenal Bekam: Sejarah dan Manfaatnya

Dalam KBBI disebutkan: bekam, membekam [mem·be·kam] adalah sebuah kata kerja yang berarti mengeluarkan (memantik) darah dari badan orang (dengan menelungkupkan mangkuk yang diisi api pada kulit sehingga kulit menjadi bengkak, kemudian digores dengan benda tajam supaya darahnya keluar). Selain itu, bekam diartikan juga mencengkam atau mencengkeram dalam bahasa Melayu Jakarta.

Adapun bekam dalam bahasa Arab disebut hijāmah (حجامة). Dalam kamus Lisān al-‘Arab makna kata hajama ialah:

حجم: الإِحْجامُ: ضدُّ الإِقْدام. أَحْجَمَ عَنِ الأَمر: كَفَّ أَو نَكَصَ هَيْبةً

hajama atau al-ihjām: antonim dari memajukan. Ahjama ‘an al-amr artinya menahan atau mundur dengan segan dan terhormat. (Ibn al-Manzūr, Lisān al-‘Arab, Beirut: Dār el-Shadr, cet. 3, 1414 H, juz 12, hal. 116).

Baca Juga:   Benarkah Tidur Tengkurap Menyebabkan Masuk Neraka?

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menceritakan sosok ayahnya, Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ يَصيحُ الصَّيْحةَ يَكَادُ مَنْ سَمِعَهَا يَصْعَقُ كَالْبَعِيرِ المَحْجُوم.

Ayahku Umar pernah berteriak dengan teriakan yang mana orang yang mendengarnya tersambar seperti unta yang diberangus. (Ibn al-Manzūr, Lisān al-‘Arab, juz 12, hal. 116).

Sedangkan dalam kamus al-Mu’jam al-Wasīth, kata hajama, hijāmah, hajm dan semacamnya didentikkan dengan menyedot maupun menghisap. Dari beberapa arti kata tadi, kata hijāmah memang selaras dengan praktik bekam, yaitu menyedot darah kotor dari tubuh.

Adapun secara etimologi dalam bahasa Arab bekam diambil dari pengembangan kata hajama menjadi hajjama, yang berarti mengembalikan sesuatu pada ukuran volumenya yang asli dan mencegahnya untuk berkembang. Dalam konteks makna kedua ini, hijāmah adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menghentikan atau mencegah penyakit agar tidak berkembang menjadi lebih berat dan mengembalikan suatu kondisi awal saat sehat.

Dr. Ali Muhammad Muthāwi, dekan pertama pada Fakultas Kedokteran Al-Azhar dan ahli radiologi dan tumor menyebutkan, menjelaskan bekam secara ilmiah, ungkapnya “Bekam memiliki landasan ilmiah yang cukup dikenal, yaitu bahwa organ-organ dalam tubuh berhubungan dengan bagian-bagian tertentu pada kuli manusia di titik masuk saraf yang menyuplai makanan kepada organ-organ tersebut di saraf tulang belakang. Dengan adanya hubungan ini, maka rangsangan apa pun yang akan diarahkan pada kulit mana pun di bagian tubuh ini, akan mempengaruhi organ-organ internal yang berhubungan dengan bagian kulit ini.” (Syihab Al-Badri Yasin, Bekam Sunah Nabi & Mukjizat Medis, hal. 20).

Bekam adalah pengobatan yang sudah mendunia. Selain bekam dan hijāmah, ada sebutan lain untuk praktik pengobatan ini dalam beberapa bahasa, yaitu  kop, cucurbit, cupping, fire-bottle, blood-letting, pa hou kuang.

Beberapa bukti sejarah ditemukan bahwa bekam dikenal sejak kerajaan Sumeria yang berdiri sekitar 4000 tahun sebelum Masehi, setelah itu berkembang dan meluas ke arah Babilonia, Mesir, Saba dan negeri-negeri yang dialiri Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.

Kala itu bekam menjadi pengobatan eksklusif yang dilakukan khusus oleh tabib untuk para raja. Bekam pada peradaban Mesir bahkan sudah ada sejak zaman Firaun, sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Ditemukannya Ebers Papyrus atau Papirus Ebers menjadi bukti tertua adanya praktik bekam di era Mesir Kuno. Tanggal yang tercantum ialah 1550 sebelum Masehi. Papirus Ebers ditulis dalam bahasa Mesir Kuno dan berisikan tentang praktik kedokteran pada zaman Mesir Kuno, meliputi 700 formula pengobatan dan terapi. Salah satu halaman lembaran tua itu dinyatakan bahwa bekam dapat digunakan sebagai terapi untuk gangguan menstruasi, demam, gangguan nafsu makan dan berbagai macam nyeri.

Baca Juga:   Kesunnahan Memakai Celak

Diunduh dari https://whitelotusbeauty.com/blogs/ukblogs/cupping-therapy-in-ancient-egypt

Bangsa Persia yang hidup 3000 tahun sebelum Masehi sudah mengenal pengobatan bekam. Begitu pun dengan bangsa China, mereka sudah mempraktikkan bekam sejak lama. Bahkan bangsa China menyatakan bahwa merekalah bangsa yang pertama kali mengenalkan bekam kepada dunia. Bekam diperkirakan berkembang di Cina sejak 2500 tahun sebelum Masehi, sebelum berkuasanya kaisar Yao di Cina. (Wadda’ A Umar, Sembuh dengan Satu Titik, 2008).

Dinasti-dinasti selanjutnya juga masih mempertahankan pengobatan tradisional ini. Pada masa dinasti Qing, muncul buku Materia Medica yang ditulis seorang tabib Cina bernama Zhao Xuemin yang menuliskan bagian khusus tentang bekam.

Bangsa Yunani dan Romawi tidak ketinggalan, mereka mendapatkan model pengobatan seperti ini dari bangsa Mesir Kuno. Mereka mempercayai bahwa bekam dapat menjaga keseimbangan hormon tubuh dan mengeluarkan substansi yang berlebih.

Beberapa dokter terkenal kala itu menuliskan tentang bekam, salah satunya adalah Herodotus, pada 413 Masehi menuliskan manfaat bekam, “…perlukaan dengan bekam memiliki kekuatan untuk mengeluarkan benda yang mengganggu dari kepala dan pada saat yang sama dapat menghilangkan nyeri kepala, menurunkan peradangan, memperbaiki nafsu makan dan memperkuat lambung yang lemah….”

Benda ini ditemukan selama penggalian di Pompeii, Italia. Dibuat sebelum letusan gunung berapi Vesuvius yang menghancurkan kota pada tahun 79 M.

 

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bronze_Roman_cupping_vessel,_1-79_CE_Wellcome_L0058046.jpg

Di tengah masyarakat Arab sendiri, pengobatan tradisional bekam dikenal melalui bangsa Yunani dan Romawi yang berhubungan dengan masyarakat Muslim Arab lewat jalur Alexandria Mesir dan Byzantium Syiria. Adapun Eropa, Amerika dan Uni Soviet mengenal bekam pada abad ke-18. (Rozenfeld, New Is The Well-Forgotten Old: The Use of Dry Cupping In Musculoskeletal Medicine, Journal of Bodywork & Movement Therapies, 2015, hal. 2)

Dari beberapa uraian di atas, terbukti bahwa bekam adalah pengobatan tradisional yang telah hadir di berbagai peradaban dunia, melintasi masa dan tumbuh berkembang di berbagai suku, rasa dan agama. Peralatan yang digunakan pun semakin hari makin berkembang. Dari tanduk hewan, hingga bahan logam dan plastik. Di era modern ini peralatan bekam sudah semakin elegan dan tentunya lebih nyaman dan higienis. Semakin hari Cupping therapist atau terapi bekam semakin mengutamakan sterilitas alat dan bahan serta melakukan terapi tersebut berdasarkan standar prosedur yang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Diunduh dari http://helpsharia.com/wp-content/uploads/2017/03/alatbekam.jpg

Selanjutnya baca di link berikut https://majalahnabawi.com/bekam-ditinjau-dari-tradisi-kenabian-antara-wahyu-dan-budaya-2/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.