Hadis, ilmu hadis

Inilah Peran Ulama Abad ke-4 dalam Perkembangan Ilmu Hadis

Penulis: Sri Satyaningtyas Tyas · 1 min read

Majalahnabawi.com – Sebelum menjelaskan pertanyaan ini, mari kita flashback sebentar melihat keadaan umat Islam pada abad ketiga hijriah. Abad itu dianggap sebagai masa keemasan di dalam perkembangan ilmu-ilmu keislamaan. Di abad ini sangat banyak penulisan hadis sampai muncullah kitab yang sangat fenomenal di kalangan umat Islam yaitu al-Kutub al-Sittah.

Pada abad tiga juga banyak ditemukan ensiklopedia mengenai ilmu hadis. Intinya, abad ketiga hijriah ini dikenal sebagai masa yang sangat memperhatikan dan menjaga ilmu-ilmu keislaman terutama pada ilmu hadis. Maka dari itu, bisa kita ketahui bahwa di abad keempat akan sangat jauh berbeda dengan abad ketiga.

Pada abad keempat hijriah, para ulama melakukan kegiatan pengumpulan kitab-kitab hadis yang tercecer pada masa sebelumnya, atau menyingkatnya dengan menghapus rantai sanad yang memang diharuskan untuk dibuang, mereka juga melakukan penertiban serta merevisi hadis-hadis. Adapun jika hadis itu sudah lengkap dari masa sebelumnya, maka tugas mereka hanya menyalin, memeriksa, dan menyelidiki hadis tersebut.

Usaha Menjaga Sunnah pada Abad Keempat

Jadi bisa kita simpulkan bahwasannya ulama pada zaman dahulu, mereka hanya memperhatikan sabda Nabi dari segi Syafahiyyah atau metode lisannya saja, baik itu mendengar hadis, menghafal, atau mencari ke sana-ke mari untuk dihafal dan dipelajari. Hingga mereka meriwayatkan atau membagikan hadis yang sudah mereka hafal kepada orang lain dengan metode Sima’i, yaitu mendengar dari syekh atau gurunya kemudian ditransfer ke muridnya secara lisan kemudian ditransfer lagi sampai ke murid-murid yang lain dengan metode seperti itu, akan tetapi mereka tidak terlalu fokus dalam menyalin dan merevisi hadis. Oleh sebab itu, pada abad keempat ini para ulama memisahkan antara ulama mutaqaddimin (ulama pada masa-masa awal Islam) dengan ulama mutaakhkhirin.

Kemudian mari kita bahas usaha-usaha para ulama dalam membukukan hadis pada abad keempat ini. Perlu kita ketahui bahwasannya pembukuan hadis sangatlah penting. Coba bayangkan jika mereka tidak melakukan hal itu, pasti sudah bisa dipastikan bahwa hadis Nabi tidak bisa utuh sampai sekarang atau bahkan tidak ada karena tidak ada lagi yang menghafalnya. Alangkah bersyukurnya kita semua atas segala upaya para ulama dalam membukukan sabda Nabi serta menyalin dan merevisinya.

Baca Juga:   Kelas Pemikiran AMY Institute: Hadis di Pangkuan Ibu

Fokus Ulama Abad Keempat

Seperti yang telah dijelaskan bahwa pada abad keempat para ulama fokus dalam menyalin kitab hadis, merevisi, dan menyusunnya, maka usaha mereka tidaklah jauh dari semua perkara ini yaitu salah satunya dengan menyalin kitab-kitab sahih seperti kitab Sahih Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibnu Habban, Sahih Ibnu Sukan, dan Sahih al-Hikam. Ada juga yang merangkai kitab-kitab sunan, kitab-kitab ahkam, kitab-kitab sahih dan masih banyak kitab-kitab lainnya. Contohnya seperti kitab Muntaqo Ibn al-Jarud, Sunan al-Daruqutni, dan Sunan al-Baihaqi.

Pada abad keempat inlilah kita temukan bahwa kitab-kitab sunan boleh berkumpul, dan para ulama lebih memperhatikan penulisan buku tentang bagaimana perbedaan-perbedaan hadis dan masalah-masalah lainnya.

Ada dua macam karya pada abad ini, yang mana karya ini dapat memberikan inovasi dalam khidmahnya pada sunnah-sunnahnya Nabi.

Yang pertama adalah kitab Mustalah – kitab Ulum al-Hadis. Disusun di dalamnya tentang kaidah-kaidah hadis yang mana ulama pada abad kedua dan ketiga hijriah belum pernah ada yang membukukannya atau saat itu ilmu tentang kaidah-kaidah hadis itu masih terpencar-pencar, belum disusun menjadi satu kesatuan.

Yang kedua adalah kitab al-Mustakhrojat, dan juga ada macam kitab lainnya, seperti kitab Ma’ajim al-Tabaraniy, kitab ‘Ilal karya Imam al-Daruqutniy, dan masih banyak kitab lainnya yang belum disebutkan pada tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.