Artikel Utama, Hadis, Sejarah, Tokoh

Hikmah dari Pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah

Penulis: Muhammad Khoirul Anam · 2 min read
nikah

Majalahnabawi.com – Nikah merupakan suatu anjuran Rasulullah kepada umat Islam bagi mereka yang merasa telah mampu baik secara jasmani ataupun materi. Namun, dewasa ini seringkali kita saksikan banyak orang yang menganggap nikah hanyalah sekadar ritual agamis tanpa diyakini adanya makna yang mendalam. Lantas, apakah sebenarnya tujuan dan hikmah dari menikah? Mari kita mengambil pelajaran dari kisah Nabi Muhammad dengan Juwairiyah agar kita bisa lebih memahami tujuan dan hikmah dari pernikahan itu sendiri.

Perang Bani Mushthaliq dan Pernikahan dengan Juwairiyah

Pembahasan pernikahan Nabi Muhammad dengan Juwairiyah tidak lepas dari Perang Bani Mushthaliq atau Perang Muraisi’. Pada hari itu, sepuluh orang dari Bani Mushthaliq termasuk suami Juwairiyah terbunuh. Kaum muslimin di sana mendapatkan kemenangan yang besar dan ganimah yang berlimpah. Juwairiyah pun tertawan dan menjadi budak di bawah kepemilikan Tsabit bin Qais. Hal ini membuat Juwairiyah sedih dan cemas. Oleh karena itu, Juwairiyah mengadakan kesepakatan dengan Tsabit bahwa ia akan merdeka jika memberikan 9 uqiyah emas (1 uqiyah emas sama dengan 31,7475 gram emas). Akan tetapi kesepakatan ini memberatkannya, karena ia sudah tidak memiliki harta benda lagi.

Juwairiyah pun mengadu dan meminta bantuan Nabi Saw perihal nasibnya itu. Namun, alih-alih menjawabnya, Rasulullah justru menanyakan sesuatu yang lebih baik dari hal tersebut, yaitu bagaimana jika beliau menebusnya dan menikahinya. Juwairiyah pun kaget dan tidak menyangka terhadap jawaban yang diberikan Rasulullah Saw. Terbitlah senyum dari wajahnya yang selama ini terbungkam oleh rasa khawatir. Dengan senang hati Juwairiyah menerimanya.

Tak lama berselang, Rasulullah menikahinya dan mengganti namanya dari Barrah menjadi Juwairiyah. Setelah para sahabat mendengar kabar pernikahan tersebut, mereka memerdekakan semua tawanan dari Bani Mushthaliq yang mencapai seratus keluarga. Tindakan para sahabat ini membuat Bani Mushthaliq kagum, akhirnya mereka masuk Islam dengan sukarela. Aisyah berkata, “Aku tidak mengetahui wanita yang paling banyak berkahnya bagi kaumnya darinya (Juwairiyah).”

Baca Juga:   Kupas Sejarah Haji di Nusantara: Monopoli Haji Masa Kolonial

Hikmah dari Pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah

Dari kisah di atas, penulis mendapatkan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.

Pertama, keutamaan menikahi janda. Hal ini pastinya mendatangkan banyak pahala karena dengan menikahinya, berarti menanggung dan meringankan hidupnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan salat di malam hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, membantu saudara satu iman. Di masa sekarang, perbudakan memang sudah tidak ada. Akan tetapi, salah satu esensi perintah Allah dari pembebasan budak dimaksudkan agar kita saling membantu sesama. Maka bisa dipahami, bahwa salah satu tujuan Rasulullah menikahi Juwairiyah tentu saja untuk membantunya. Berasal dari keluarga terpandang dan serba ada, lalu tiba-tiba menjadi budak merupakan suatu cobaan yang berat baginya. Dan kita juga telah mengetahui di samping dia turun status, suaminya pun terbunuh pada peperangan tersebut. Tak ayal, merupakan hal yang wajar jika ia mengalami shock dan anxiety. Maka di sinilah Rasulullah hadir dan bersedia berbagi duka dengannya sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketiga: Menyebarkan Syiar dan Dakwah Islam

Seperti yang sudah dipaparkan, Juwairiyah bukanlah wanita biasa. Beliau merupakan putri bangsawan yang dikenal memiliki adab dan perilaku yang baik serta kefasihannya dalam berbicara. Dengan Rasulullah menikahinya, dampaknya tentu saja besar. Para sahabat pun membebaskan para tawanan karena pernikahan tersebut dan Bani Mushthaliq berbondong-bondong masuk Islam karena melihat betapa mulianya Islam. Tentu saja masuk islamnya Bani Mushthaliq ini membawa efek yang cukup kuat di sana, mengingat Bani Mushthaliq merupakan salah satu kabilah terbesar dari Bani Khuza’ah dan dahulu merupakan sekutu Quraisy saat Perang Uhud yang otomatis membuat posisi Islam semakin kukuh.

Baca Juga:   Tafsir Ulama Klasik Tentang Musik dalam QS. Luqman: 6

Keempat, menjalin silaturahmi antar keluarga. Setelah banyak dari Bani Mushthaliq masuk Islam, tak lama kemudian ayah dari Juwairiyah akhirnya masuk Islam. Tentu saja hal ini membawa hal positif dan mereka pun hidup dengan damai bersama kaum Muhajirin dan Anshar di bawah naungan Islam.

Kelima, cinta para sahabat kepada keluarga Nabi Saw. Seperti kita ketahui, dengan adanya pernikahan ini, para sahabat membebaskan tawanan Bani Mushthaliq karena mereka semua telah menjadi bagian dari keluarga nabi dan merasa tak layak untuk memperbudak mereka meskipun mereka belum masuk Islam. Para sahabat melakukan ini tentu saja semata-mata karena kecintaan mereka terhadap keluarga nabi. Hal ini didasari oleh sabda Rasulullah Saw, “Cintailah Allah atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah keluargaku karena cinta kepadaku.” (HR. al-Tirmidzi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.