Connect with us
Klik di sini

Pesan Imam Syafi’i: Semua Akan Indah Pada Waktunya

Pojok Pesantren

Pesan Imam Syafi’i: Semua Akan Indah Pada Waktunya

Biarkanlah hari-hari berbuat sesukanya

Dan lapangkanlah dada jika takdir sudah menentukan

Dan janganlah berputus asa karena suatu keburukan

Karena suatu keburukan di dunia ini tidaklah kekal

Imam Syafi’I R.A

 

Sering kali kita mengeluhkan tentang nasib yang tidak bersahabat, rencana yang tak tercapai, keadaan yang memilukan, perjuangan yang melelahkan dan semacamnya. Meskipun wajar, karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah, sebagaimana disebutkan dalam firmannya di surat An-Nisa ayat 28:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانِ ضَعِيْفاً

“Dan manusia diciptakan (bersifat) lemah.”

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً * إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً * وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً *

“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Q Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesahQ dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikirQ

Akan tetapi hal itu tidak semestinya meruntuhkan semangat dan tekad kita, malah seharusnya memotivasi kita agar lebih giat berusaha dan tentunya menerima segala konsekuensi atas perjuangan kita, entah kemenangan atau pun kegagalan.

Dalam kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi’i, dijelaskan bahwa “segala sesuatu itu ada waktunya”. Dalam kitab tersebut, Imam Syafi’i menerangkan pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah, sehingga tidak diperkenankan bagi seseorang untuk shalat fardu menghadap Baitul Maqdis selamanya setelah terjadinya pemindahan tersebut, juga tidak diperbolehkan shalat fardu menghadap selain Ka’bah.

Imam as-Syafii juga menjelaskan bahwa segala sesuatu itu ada waktunya, maka menghadap Baitul Maqdis sebelum turun ayat nasakh adalah kebenaran. Akan tetapi setelah Allah menasakhnya, kebenaran itu berubah dan berpindah ke arah Ka’bah selamanya. Kecuali dalam keadaan tertentu seperti shalat khauf atau shalat sunah dalam perjalanan sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Quran dan hadis.

Kalimat “segala sesuatu itu ada waktunya”,  jika disesuaikan dengan bahasa anak zaman sekarang yang sangat akrab di telinga kita, yaitu “semua akan indah pada waktunya”. Kalimat tersebut memiliki makna bahwa seseorang akan mendapatkan apa yang ia perjuangkan dan usahakan pada waktu yang tepat. Dengan usaha dan kesabaran, maka ia akan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Imam As-Sa’di dalam Mandzumah fiqihnya menyebutkan:

مَعَاجِلُ الْمَحْظُوْرِ قَبْلَ آنِهِ * قَدْ بَاءَ بِالخُسْرَانِ مَعْ حِرْمَانِهِ

“Orang yang menyegerakan sesuatu yang masih terlarang sebelum waktunya * sungguh ia akan kembali dengan membawa kerugian dan keharamannya (tidak mendapatkannya.”

Atau seperti yang disebutkan para ulama:

“من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه”

“Barang siapa yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukum dengan keharamannya”

Kaidah ini, selain berlaku dalam masalah fikih, juga dapat berlaku dalam masalah umum yang seringkali kita alami. Seperti dalam sebuah kisa tentang satu keluarga yang hendak pulang ke kampung halaman. Mereka begitu tidak sabar ingin segera sampai di kampung halaman mereka. Untuk menuju kampung halamannya terdapat dua jalur, salah satunya jalur umum sebagaimana kendaraan bermotor menggunakannya, dan jalur yang lainnya adalah jalur desa pedalaman.

Adapun jalur sebagaimana umumnya, kendala yang akan mereka lalui adalah panas terik matahari dan jalanan macet yang cukup membuat para pengguna jalan sedikit stres, ditambah lagi ketika menjelang lebaran yang pastinya jalan semakin padat oleh para pemudik.

Keluarga itu enggan melewati momen-momen mudik ini dengan kemacetan, menunggu, lelah dan peluh, sehingga mereka lebih memilih jalur cepat, yaitu melewati jalan perkampungan yang ukurannya tidak selebar jalan raya. Jalan itu hanya cukup dilewati dua mobil, dan itu pun tidak semua mobil bisa masuk, hanya  mobil seukuran mini bus yang bisa lewat, itu pun dengan pelan. Jika yang lewat ternyata mobil truk, maka terpaksa mobil kecil yang melewati jalan ini harus terlebih dahulu mundur ke halaman rumah warga.

Walhasil, mereka pun melewati jalan itu dan lumayan lebih cepat awalnya dan tidak panas karena sekelilingnya masih tumbuh beberapa pohon yang itu pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi, tidak disangka ternyata jalan itu sedang dalam perbaikan, ditambah masih ada beberapa jalan yang berlubang. Dengan terpaksa sang supir mencari-cari jalan yang kira-kira masih layak dilewati.

Tak terasa ban mobil mereka bocor karena mengenai benda tajam. Mereka pun terpaksa berhenti terlebih dahulu ke tukang tambal ban karena lupa membawa ban cadangan. Setelah dihitung-hitung ternyata waktu yang ditempuh dari kedua jalan pun sama.

Dari kisah diatas, bisa kita simpulkan bahwa mencari jalur cepat untuk mendapatkan apa yang kita maksud, terkadang akan menghalangi kita untuk mendapatkannya. Tak jarang kita mendapatkan penghalang yang lebih besar saat menempuh jalur yang kita anggap lebih cepat.

Maka dari itu, apapun profesi kita, jalanilah dengan apa adanya, dengan ikhlas serta lapang dada dalam menerima setiap suratan takdir yang telah dituliskan untuk kita semua. Karena setiap kesedihan dan kesulitan itu tidak kekal. Ia akan berganti kesenangan dan kemudahan seiring berjalannya waktu, sebagaimana petuah Imam Syafi’i:

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُـرُورٌ     وَلاَ بُـؤْسٌ عَلَيْـكَ وَلاَ رَخَــاءُ

Kesedihan itu tidaklah kekal, begitu juga kesenangan,

Juga kesengsaraan yang menimpahmu dan pula kemewahan.

Terkhusus lagi bagi kaum pelajar seperti kita, kesabaran dan kerja keras adalah hal yang patut dimiliki, entah itu bersabar dalam ketaatan ataupun kesabaran dalam menjaga diri dari kemaksiatan, serta kesabaran untuk menahan diri agar jangan terburu-buru untuk menjadi mashur dan berfatwa sana-sini, Syeikh Ibn ‘Atho’illah berkata:

ادْفِنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

“Kuburlah dirimu di tanah kerendahan, karena sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur (ditanam) hasilnya kurang sempurna”

Tetap semangat, terus berkarya dan jangan mengeluh! Karena semua akan indah pada waktunya.

Related Post

Continue Reading
Klik di sini

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Pojok Pesantren

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top