Sejarah

Sa’id bin Al-Musayyib; Sang Pemimpin Tabi’in dalam Hadis dan Fiqih

Avatar Written by Admin · 2 min read

Majalahnabawi.com – Hadis merupakan sumber hukum kedua dalam Islam yang berupa perkataan, perbuatan, dan sikap diamnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadis tidak seperti Al-Quran yang telah Allah SWT jamin keasliannya hingga hari kiamat, sehingga rentan adanya pemalsuan di dalamnya.

Para sahabatlah yang memiliki peran penting dalam penjagaan Hadis Nabi. Namun setelah para sahabat wafat, dan terjadi fitnah dalam perpolitikan umat Islam di dekade keempat hijriah, maka estafet penjagaan Hadis diteruskan oleh para tabi’in (murid dari para sahabat).

Di antara Tabi’in yang memiliki pengaruh besar dalam penjaga hadis pada masa tabi’in adalah Sa’id bin Al-Musayyab (Al-Musayyib). Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Sa’id bin Al-Musayyab bin Hazn bin Abi Wahab bin Amr bin A’idz bin Imran bin Makhzum Al-Qurasyi Al-Madani. Sa’id sendiri lebih suka dipanggil Ibnu Al-Musayyib dari pada Al-Musayyab, tetapi dalam literatur sejarah atau pun ilmu hadis, namanya lebih populer ditulis Ibnu Al-Musayyab daripada Ibnu Al-Musayyib.

Menurut Imam Adz-Dzahabi, Sa’id bin Al-Musayyib dilahirkan pada masa Khalifah Umar, dua atau empat tahun awal masa kekhilafahannya (Sekitar tahun 14 atau 16 hijriyah).

Sa’id bin Al-Musayyab merupakan murid sekaligus menantu dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dan Sa’id bin Al-Musayyab pun meriwatkan hadis dari banyak sahabat, dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Tadzhib at Tadzhibnya menyebutkan di antara sahabat yang Sai’id riwayatkan antara lain dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Hakim bin Hizam, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu ‘Amr bin ‘Ash, Abu Dzar Al-Ghifari, Abu Darda, Zaid bin Tsabit, Sayyidah Aisyah, Abu Qotadah, Abu Musa Al-Asy’ari, Ummu Sulaim, Ummu Syarik, Ayahnya (Al-Musayyab) dan masih banyak sahabat yang diambil riwayatnya oleh Sa’id bin Al-Musayyab.

Baca Juga:   Imam Al-Khalil bin Ahmad; Kekecewaan sebagai Tonggak Kesuksesan

Dan murid-murid yang mengambil periwayatan darinya di antaranya adalah putranya Muhammad, Salim bin Abdullah bin Umar, Ibnu Syihab A- Zuhri, Abu Zinad, Qatadah. Sa’ad bin Ibrahim, Amr bin Murah, Abu Ja’far Al-Baqir, Urwah bin Zubair dan masih banyak yang lainnya.

Sa’id bin Al-Musayyab dikaruniakan hafalan yang kuat, zuhud, dan selalu terdepan dalam shalat berjamaah. Dia adalah orang yang tsiqah dan setiap fatwanya adalah hujjah. Hafalannya yang kuat menjadikan dirinya sebagai salah satu dari Madarul Hadis (Poros Hadis) Madinah. Kredibilitasnya menjadikannya sebagai salah satu perawi yang paling disegani dan namanya terukir dalam berbagai rantai sanad periwayatan hadis dalam berbagai kitab Hadis. Bahkan karena kedekatnnya dengan Abu Hurairah sebagai guru dan murid, serta menantu dan mertua, namanya sering disandingkan dengan nama Abu Hurairah, sehingga tidak heran banyak yang menganggap Sa’id adalah penghulu para tabi’in dalam ilmu hadis.

Dan salah satu keistimewaannya Sa’id bin Al-Musayyab adalah riwayat mursalnya diterima oleh ulama hadis setelahnya. Hal ini karena ketsiqohannya serta kedekatannya dengan para sahabat senior serta sifat ‘adil yang telah disepakati para ahli hadis setelahnya.

Sa’id bin Al-Musayyab juga merupakan ahli fiqih, dimana beliau merupakan salah satu dari Fuqoha As-Sab’ah min Ahlul Madinah. Sa’id menjadi pemimpin para ahli fikih Madinah dan fatwanya didengar oleh seluruh masyarakat Madinah, bahkan oleh seluruh kaum muslimin. Sa’id adalah Tabi’in yang paham mengenai ijtihad para khalifah dan para sahabat, dan fatwanya telah didengar selagi para sahabat masih banyak yang hidup. Peran Sa’id bin Al-Musayyab semakin terasa pada saat para sahabat senior Madinah banyak yang wafat, khususnya dalam dekade ketujuh hijriyah hingga wafatnya beliau. Pemikiran dan ijtihad beliau dalam fikih kemudian diteruskan oleh muridnya, Ibnu Syihab Az-Zuhri (w. 124 H) serta muridnya Az-Zuhri sendiri, yakni Imam Malik (w. 179 H). Sa’id juga merupakan salah satu yang dikaruniai oleh Allah SWT berupa keahlian dalam mentakwil mimpi.

Baca Juga:   Bila Bashrah dan Kufah Berseteru

Dalam kitab Ath-Thabaqotul Kubra karya Muhammad bin Sa’ad disebutkan bahwa Sa’id bin Al-Musayyab wafat di kota Madinah pada usia 75 tahun, pada tahun 94 Hijriyah karena sakit. Sa’id wafat pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H).

 

Penulis : Muhammad Iqbal Akmaluddin (Mahasantri smt. 4)

Written by Admin
Media Keilmuan dan Keislaman Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.