Connect with us
Klik di sini

Benarkah Semua Sahabat Kredibel (‘Udul)?

Telaah Hadis

Benarkah Semua Sahabat Kredibel (‘Udul)?

Dalam ranah hadis, kita tidak bisa terlepas dari sanad yang mana itu adalah ciri khas umat islam untuk menjamin kredibilitas suatu berita. Seperti yang dikatakan oleh Abdullah ibn Mubarok “inna al-isnad min al-dini wa lau la al-isnad laqola man sya’a ma sya’a” (sanad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena sanad maka orang akan mengatakan sesukanya).

Begitu pentingnya suatu sanad bagi kaum muslimin sampai para ulama menelusuri satu persatu  kredibilitas setiap sanad, tanpa terkecuali para sahabat.

Sebelum kita membahas lebih dalam, yuk kita kenali terlebih dahulu apa itu kredibilitas sahabat. Dalam buku karya Ali Musthofa Ya’qub yang berjudul “Kritik Hadis” dijelaskan bahwa kredibilitas adalah sifat seorang muslim yang sudah akil-baligh, tidak suka berbuat maksiat, dan selalu menjaga martabatnya. Mereka tidak mungkin juga berbohong terhadap berita yang disandarkan kepada nabi.

Jumhur ulama Ahlus Sunnah bersepakat bahwa setiap sahabat itu a’dil, seperti yang dikatakan al-Hafidz ibnu Katsir “والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة” inilah pendapat jumhur diantaranya adalah empat imam madzhab, imam-imam hadits, ibnu hibban dan lain sebagainya.

Tapi lain halnya dengan kaum syi’ah, khawarij, dan muktazilah, mereka mempunyai pandangan lain terhadap kredibilitas sahabat. Menurut kaum khawarij para sahabat dianggap a’dil sebelum adanya kejadian fitnah dan riwayat mereka bisa diterima.

Adapun setelah kejadian fitnah (perang saudara antara Ali bin Abi Tholib dan Muawiyah) tersebut, kelompok ini menilai bahwa mayoritas sahabat telah keluar dari islam, akibatnya hadis-hadis yang driwayatkan setelah kejadian tersebut itu ditolak. Lebih parahnya lagi adalah pendapat kaum syi’ah kelompok ini menganggap bahwa sepeninggal nabi, para sahabat telah murtad kecuali beberapa orang saja yang masih mereka anggap tetap muslim, karenanya mereka menolak hadis-hadis yang diriwayatkan dari para sahabat kecuali yang diriwayatkan oleh ahlu bait saja.

Setelah kita mengetahui pandangan beberapa sekte islam mengenai kredibilitas sahabat, mari kita lihat salah satu dalil ulama mengenai kredibilitas sahabat yaitu hadis riwayat oleh imam al-bukhori (w.256 H) dari periwayatan Abu Sa’id Al Khudri R.A (W. 63 H) bahwa;

Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakan emas sebanyak bukit uhud, tidak ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya”.

Hukum hadis diatas adalah shohih, maka bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya. Kita bisa lihat bahwa hadis diatas adalah perintah dari Rasulullah Saw sendiri agar tidak mencela para sahabat-sahabatnya, dan hadis diatas juga menunjukan bahwa  betapa mulianya sahabat-sahabat Rasul sampai tidak ada yang bisa menyamai mereka , karena mereka adalah orang-orang terdekat Rasulullah, maka dari sini kita bisa mengetahui validnya kredibilitas para sahabat.

Lalu apakah ketika para sahabat pernah berbuat maksiat (dosa) atau adanya pertikaian  peperangan antara para sahabat itu akan menurunkan kredibilitas mereka? Itu sama sekali tidak menurunkan kredibilitas mereka, karena mereka sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan maksiat, dan yang perlu digaris bawahi dari pengertian kredibilatas yang telah kita singgung diatas adalah bahwa mereka tidak suka berbuat maksiat dan tidak mungkin untuk berbohong atas apa yang disandarkan terhadap Rasulullah.

Adapun ketika mereka pernah melakukannya, ya itu masih dibawah batas kewajaran, karena maksiat mereka berbeda dengan maksiat kita. Lalu pertikaian dan peperangan baik dalam hal politik atau sebagaianya itu semua adalah sekedar bumbu kehidupan.

Alangkah baiknya kita sebagai orang awam untuk tidak mencela dan menganggap buruk para sahabat ketika menemukan sejarah tentang kejelekan mereka, karena sejatinya kita tidak ada apa-apanya dibanding para sahabat, biarkan sejarah mengalir dengan sendirinya dan yang paling peting adalah sebanyak mana cara kita bersikap dan mengambil hikmah dari perjalanan sejarah tersebut. Wallahu a’lam bishowab.

Continue Reading
Klik di sini

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Telaah Hadis

To Top