Alumni, Sejarah, Tokoh

Catatan Ziarah Ke Makam Imam Syafi’i

Comal Luthfi Azizi Written by Comal Luthfi Azizi · 3 min read

majalahnabawi.com –  Tradisi ziarah ke makam ulama atau para nabi sudah ada sejak dahulu. Ziarah seakan menjadi kebutuhan, tradisi dan fenomena sosial sebelum menjadi bagian dari syariat Islam. Karena sebuah tradisi, masing-masing bangsa dan daerah memiliki kebiasaan dan cara yang berbeda saat ziarah.

Ini adalah pengalaman spiritual pertama saya bisa berziarah ke makam Imam al-Syafi’i dan beberapa ulama lainnya yang ada di daerah Mesir. Saya akan sedikit menceritakan pengalaman perjalanan saya ketika berziarah ke makam Imam al-Syafii.

Beliau Imam al- Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Imam al-Syafi’i merupakan satu-satunya imam mazhab dari keturunan Quraisy. Nasabnya tersambung kepada Rasulullah Saw melalui Abdu Manaf.

Masjid dan makam Imam al-Syafi’i terletak di al-Qorofah al-Sughro, tepatnya di Syari Hay al-Syafi’i, jalan Imam al-Syafi’i. Untuk menuju ke makam Imam al-Syafi’i sangatlah mudah, bagi yang bertempat tinggal di kawasan Azhar (Darrasah dan sekitarnya) bisa menaiki Tramco (semacam angkot) di terminal masyikhoh menuju maydan Sayidah Aisyah.

Kemudian melanjutkannya dengan naik Tuk- tuk (semacam bajai) atau jalan kaki, atau bisa juga langsung menggunakan transportasi semacam uber/taxi kalau tidak mau ribet ganti transportasi. (Saran saya untuk tidak berangkat di siang hari pada hari Jum’at karena pasti bakal macet sebab ada pasar penduduk di sepanjang jalan menuju makam dan masjid Imam al-Syafi’i). Baiknya berangkat sebelum shalat Ashar kalau kalian tinggal di sekitar masjid Azhar dan dilanjut jamaah Ashar di masjid Imam al-Syafi’i.

Keadaan masjid Imam al-Syafi’i setelah ditarmim atau direnovasi, masjid Imam al-Syafi’i ini menjadi sangat indah dengan dinding masjid yang berwarna cokelat membuat suasana semakin nyaman untuk beribadah, tiang – tiangnya yang terbuat dari marmer menambah nuansa megah bagi masjid tersebut, dan peresmian renovasi masjidnya dilaksanakan pada tanggal 20 November 2020.

Masjid Imam al-Syafi’i pertama kali dibangun oleh Sultan al-Kamil al-Ayyubi pada tahun 1211 M sebagai bentuk penghormatan untuk sang Imam, masjid Imam al-Syafi’i sendiri sudah beberapa kali di restorasi mulai dari zamannya Pangeran Abdurahman Kadkhuda (1776 M), Khedive Tawfiq Pasha (1891 M) dan terakhir oleh pemerintah Mesir sekarang di bawah pengawasan Kementrian Waqaf dan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir (2016-2020).

Baca Juga:   Kupas Sejarah Haji di Nusantara: Monopoli Haji Masa Kolonial

Design masjidnya begitu elegan dengan menara masjid yang bercorak khas mamluk (kerajaan), kombinasi tulisan kaligrafi khat Kufi dan dengan halaman masjid yang lumayan luas sehingga menambah kenyamanan bagi para peziarah dan jamaah yang datang ke masjid Imam al-Syafi’i.

Makam Imam al-Syafi’i sendiri untuk saat ini masih ditutup karena alasan renovasi atau tarmim, dan insya Allah bakal mulai dibuka pada bulan Ramadhan tahun ini. Walaupun makam beliau masih ditutup akan tetapi tidak menyurutkan semangat para peziarah untuk bisa ngalap berkah di makam Imam al-Syafi’i meskipun hanya di depan gerbang makam.

Ada tradisi di mana orang-orang Mesir setiap hari Jumat ba’da shalat Ashar pada berziarah ke makam Imam al-Syafi’i. Sebelum adanya tradisi ini, pada umumnya penduduk Mesir sudah melalukan ziarah keliling makam Ahlu Bait (keturunan Nabi Saw). Nah, kenapa kemudian ada tradisi ini?

Ini ada kaitanya dengan Syekh Dardir beserta gurunya yaitu Syekh Ali al-Sha’idi al-Adawi, beliau berasal dari Said Kairo bagian selatan, kemudian al-Adawi yang berasal dari bani ‘Adiy satu klan (bagian) dengan Sayidina Umar. Ceritanya waktu itu Syekh Dardir belajar hadis kepada Syekh Ali, namun ketika majelis/pengajian antara Syekh Ali dengan murid-muridnya terjadi diskusi yang sangat hangat mengenai status sebuah hadis.

Sampai ketika Syekh Dardir pulang malamnya beliau mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw, lalu Syekh Dardir menanyakan perihal masail haditsiyyah yang terjadi ketika belajar bersama gurunya tadi. Ibaratnya beliau langsung bertalaqi bersama Rasul, bagaimana menurut panjenengan Rasul terkait status hadis ini? Akhirnya hasil dari mimpinya itu disampaikan kepada gurunya terkait bertemunya Syekh Dardir dengan Rasul.

Beliau menceritakan apa yang Rasul sampaikan terkait pertanyaan Syekh Dardir mengenai masalah haditsiyyah. Setelah mendengar cerita muridnya, beliau penasaran perihal muridnya yang bisa bertemu dengan Rasulullah, sedangkan beliau sendiri Syekh Ali sudah lama tidak bertemu Rasulullah. Syekh Ali juga menanyakan kepada Syekh Dardir perihal kenapa Rasulullah sudah lama tidak datang ke mimpi Syekh Ali?.

Akhirnya Syekh Dardir kembali menanyakan kepada Rasulullah terkait keresahan gurunya itu. Jawaban beliau atas pertanyaan Syekh Ali tadi dikarenakan Syekh Ali sudah tidak lagi berziarah ke Madinah.

Kemudian Syekh Dardir menyampaikan langsung kepada gurunya yaitu Syekh Ali atas jawaban Rasulullah tadi. Ketika Syekh Ali mengetahui alasan kenapa Rasulullah tidak datang lagi ke mimpinya, Syekh Ali langsung berucap kepada muridnya: “Sampaikan maaf saya kepada Rasulullah, karena saya sudah tidak bisa lagi melakukan umrah atau haji karena saya sudah cukup tua”. Malamnya Syekh Dardir langsung menyampaikan kepada Rasulullah terkait ketidakmampuan gurunya untuk berkunjung lagi ke Madinah.

Baca Juga:   Mengenal Sosok Pendiri Wahabi dan Idiologinya

Kemudian Rasul menjawab dan menyarankan, kalau begitu datanglah ke makam Imam al-Syafi’i setiap hari Jum’at ba’da Ashar, dan Rasullulah hadir di makam Imam al-Syafi’i. Kemudian Syekh Dardir menyampaikan langsung ke gurunya dan kabar itu menyebar ke seluruh penduduk Mesir. Akhirnya, mulai saat itu penduduk Mesir banyak yang berdatangan ingin muqabalah (berhadapan) dengan Rasulullah dan juga Imam al-Syafi’i (ruhan).

Tradisi ini sudah ada sejak zaman Imam Dardir yaitu sekitar abad 18 dan berlangsung sampai sekarang. Semoga kita semua dikaruniai bisa bertemu dengan Rasulullah.

Kemudian di salah satu tembok masjid Imam al-Syafi’i terdapat juga untaian indah beliau yang berbunyi:

أُحِبُّ الصَّـالِحِينَ وَلَسْتُ مِنْـهُمْ # لَعَلِّي أَنْ أَنَـالَ بِـهِـمْ شَـفَاعَــــةْ

Artinya:

I love the virtuous and I am not one of them, hoping they may intercede for me with God.
(Aku mencintai orang orang shalih dan aku bukan dari golongan mereka, aku berharap dengan bersama mereka aku bisa mendapat syafaat dari Allah)

Dari untaian indah beliau ini menunjukan bahwa besar dan tingginya tingkat tawadhu’nya beliau imam syafii, beliau yang kita kenal sebagai ulama besar, dan sangat taat kepada Allah,nah hal ini yang perlu kita contoh dan kita praktekan dikehidupan kita.

Tidak jauh dari makam dan masjid Imam al-Syafi’i sekitar beberapa ratus meter terdapat makam guru beliau yaitu Imam Waki’, terdapat cerita menarik antara Imam al-Syafi’i dan gurunya terkait curhatan beliau kepada Imam Waki’ mengenai buruknya hafalan Imam al-Syafi’i yang kemudian beliau abadikan di dalam syairnya yang berbunyi:

ﺷَﻜَﻮْتُ إِﻟَﻰ وَﻛِﻴْﻊٍ ﺳُﻮْءَ ﺣِﻔْﻈِﻲْ – فَأَرْﺷَﺪَنِيْ إِﻟَﻰ ﺗَﺮْكِ اﻟْﻤَﻌَﺎﺻِﻲْ
وَأَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲْ ﺑِﺄَﻥَّ اﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻧُﻮْرٌ – وَنُوْرُ اﻟﻠﻪِ لَا ﻳُﻬْﺪَى ﻟِﻌَﺎﺻِﻲْ

Artinya:

Aku mengadu kepada Imam Waki’ mengenai buruknya hafalanku # maka kemudian beliau menasehatiku agar meninggalkan maksiat”.

Beliau memberitahukanku bahwa ilmu itu adalah cahaya # Sedangkan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat”.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah Imam al-Syafi’i, dan kita semua diberi kesempatan untuk berziarah ke makam beliau. Aamiiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.