Artikel Utama, Sejarah

Melacak Sejarah, Dinamika, dan Relevansi Bahtsul Masail

Majalahnabawi.comBahtsul masail adalah forum ilmiah ala NU. Menjadi media kajian untuk menjawab permasalahan aktual masyarakat. Kekhasannya adalah merujuk literatur otoritatif dalam kajian keislaman, klasik maupun kontemporer. Forum ini terlembagakan seiring dengan berdirinya NU sebagai organisasi keagamaan, sejak 1926. Meskipun dalam praktiknya, bahtsul masail sudah ada lebih dahulu. Menjadi bagian integral dari tradisi keilmuan pondok pesantren. Dikatakan bahwa bahtsul masail adalah ruh pendidikan ala pondok pesantren. Di forum inilah, santri bertukar pandangan secara terbuka. Mengkritisi dan mengonfirmasi beragam pendapat. Sebelum nanti menjadi rumusan bersama. Lantas seperti apa detail sejarah dan dinamika forum ini?

Pagi ini, 18 September 2021, pukul 08.30 WIB, kita akan membincangkannya. Yakni dalam Sekolah Bahtsul Masail yang diadakan oleh LBM PCNU Tangerang Selatan. Ada tiga narasumber; KH. Husein Muhammad (Pengasuh Pesantren Arjawinangun Cirebon), KH. Abdul Moqsith Ghazali (Wakil Ketua LBM PBNU), dan KH. Fuad Thohari (Pembina LBM PCNU Tang-Sel). Ketiganya adalah tokoh yang telah lama berkecimpung dalam bahtsul masail. KH. Husein Muhammad, dalam bukunya yang berjudul “Islam Tradisional yang Terus Bergerak” (2019) telah menyajikan ulasan bernas terkait 2 hal. Pertama, bahtsul masail NU dan implementasi demokrasi. Bagian ini mengulas sejarah keberadaan forum bahtsul masail. Termasuk dinamika keterlibatan perempuan dalam forum bahtsul masail.

Catatan Kritis dari KH. Husein Muhammad

Kedua, mengkritisi metodologi bahtsul masail NU. Bagian ini terdiri dari ulasan mengenai tahapan pengambilan keputusan dalam forum bahtsul masail dan perkembangan penggunaan literatur-literatur kontemporer. Selain memaparkan secara deskriptif, KH. Husein juga memberikan catatan kritis. Satu di antaranya adalah terkait tahapan bermadzhab secara qouli. Khususnya dalam konsistensi merujuk pendapat ulama. Contoh yang diangkat adalah tafsiran konsep “sabilillah”. Komponen penerima zakat ini, ditafsirkan sebagai “sabilul khair”. Sehingga bersifat lebih umum dari sekedar arti awal “sabilillah”. Rujukan pendapatnya adalah Imam al-Qaffal. Tokoh madzhab Syafi’i dari Khurasan yang dikenal dengan prespektif rasional.

Baca Juga:   Sulaiman bin Mihran al-A’masy; Al-Mushaf dari Kufah

Dari sisi relevansi forum bahtsul masail, kita akan diantarkan oleh dua narsum lainnya. Kiai Moqsith dan Kiai Fuad adalah dua figur jebolan pesantren salafiyah yang khidmah di masyarakat perkotaan. Sering mendapati pertanyaan yang sangat dinamis dan beragam. Yang pertama adalah alamuni Pesantren Situbondo, salah satu murid kinasih KH. Afifuddin Muhajir. Sedangkan yang kedua adalah alumni pesantren al-Falah Ploso Kediri. Pesantren salafiyah yang memiliki tradisi penguasaan kitab kuning yang detail dan mendalam. Kaderisasi aktivis bahtsul masail disusun secara berjenjang dan terstruktur.

Lantas tertarikah anda?

Muhammad Hanifuddin, Lc, S.S.I
Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.