Artikel Utama, Hadis

Obat Hati ala Imam Ibrahim bin Ahmad al-Khawwas

Penulis: Faiz Aidin · 2 min read
hati

Majalahnabawi.com – Hati merupakan sentral dalam diri kita. Jika sakit hati, maka seluruh jasad pun merasakan sakit. Jika hati tenang, maka seluruh jasad pun merasakan ketenangan.

Jangan pernah melukai hati, apalagi sampai terjangkit penyakit hati. Rasulullah menjelaskan pentingnya zat hati dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh sahabat al-Nu’man bin Basyir:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ کُلُّهُ، وََإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ کُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ. (رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَابْنُ مَاجَه وَأَحْمَدُ والدَّارِمِيُّ)

Ketahuilah sungguh di jasad ada segumpal daging, yang apabila dia baik maka seluruh jasad menjadi baik. Jika daging itu rusak, maka seluruh jasad menjadi rusak. (HR. al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, dan al-Darimiy)

Oleh karena itu, harus bagi kita untuk membersihkan hati dari segala penyakit dan kotoran hati.

Jika hati sakit, bagaimana mengobatinya?

Imam Ibrahim bin Ahmad al-Khawwash menjelaskan hadis di atas dengan memberikan solusi obat hati, yaitu ada lima:

Pertama, Membaca al-Quran dengan Merenungi Maknanya

Al-Quran merupakan kalam Allah yang suci, diberi pahala orang yang membacanya, dan al-Quran juga berkhasiat menyembuhkan penyakit zahir dan batin. Allah berfirman,

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْأٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِیْنَ

Dan kami turunkan al-Quran sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Isra [17]: 82)

Jadi jangan pernah bosan membaca al-Quran setiap hari.

Membaca al-Quran dengan melihat termasuk sepaling utama amal dan dapat mempercepat hafalan.

Jika membahas al-Quran maka tidak akan pernah habis. Semua yang terkandung di dalam al-Quran terdapat pelajaran dan hikmah bagi orang yang merenunginya.

Mari membaca al-Quran, mempelajari maknanya, merenungi isinya, dan mengamalkan kandungan al-Quran. Semoga dengan hal tersebut, hati kita menjadi tenang dan terhindar dari penyakit hati.

Baca Juga:   Pemimpin Masa Depan Perspektif Al-Quran

Kedua, Mengurangi Isi Perut dengan Berpuasa Sunnah

Seorang yang kebanyakan makan berpotensi tinggi malas dan ingin tidur terus.

Untuk menghindari hal tersebut, maka tirakat yang dilakukan adalah dengan memperbanyak puasa dan menyedikitkan makan. Dengan berpuasa, kita mudah untuk menghafal dan ringan untuk melakukan ibadah.

Banyak puasa sunnah yang dapat kita lakukan seperti puasa sunnah Senin Kamis, puasa Nabi Dawud (sehari berpuasa, sehari berbuka), puasa Ayyamul Bidh (puasa tanggal 13, 14, dan 15 pada bulan-bulan Hijriyah).

Memang banyak cobaan ketika kita berpuasa sunnah, sedangkan orang lain tidak berpuasa. Tetapi di balik cobaan itu, pasti banyak hikmah dan pahala yang kita dapatkan saat puasa sunnah.

Puasa sunnah dapat mengobati penyakit hati, karena dengan mempuasakan jasad dan hati kita akan terhindar dari sifat marah, sombong, dan sahwat kita menurun dengan sebab berpuasa.

Ketiga, Qiyamulail

Shalat sunnah di malam hari memanglah agak sulit dilakukan, karena sedang nyenyak tidur lalu ditekadkan untuk melakukan shalat sunnah malam.

Tetapi jika sudah terbiasa shalat sunnah malam hari, maka tidak akan terasa berat bahkan bisa merasa kurang jika tidak shalat sunnah malam hari.

Banyak shalat sunnah malam hari seperti shalat sunnah tahajjud, witir, hajat, taubat, istikharah.

Ketika selesai melaksanakan shalat sunnah malam, hendaknya kita memperbanyak istigfar, berdoa, dan bermunajat kepada Allah. Karena pada waktu tersebut disaksikan para Malaikat dan lebih mudah untuk diijabah doa kita.

Dengan melakukan shalat sunnah malam dan berdoa, maka insya Allah hati kita ditenangkan oleh Allah dan dihilangkan segala penyakit hati kita.

Mari kita biasakan untuk melakukan shalat sunnah malam meskipun dua rakaat yang penting terus menerus setiap hari.

Baca Juga:   Gustav Leberecht Flügel dan Al-Qur'an

Keempat, Merendahkan Diri di Hadapan Allah pada Waktu Sahur

Setelah shalat sunnah malam, hendaknya kita merendahkan diri dan curhat segala perihal kita kepada Allah. Karena waktu sahur itu sangat sunyi dan waktu yang sangat tepat untuk bermunajat serta curhat kepada Allah.

Segala kebutuhan, kesalahan, kegundahan kita limpahkanlah kepada Allah, niscaya Allah akan memberi solusinya.

Merendahkan diri di hadapan Allah berarti menganggap diri kita bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Oleh karena itu, janganlah kita sombong diri dan merasa iri hati dengan segala pemberian Allah kepada orang lain.

Kelima, Bergaul dengan Orang-orang Shaleh

Bergaul dengan orang shaleh mengakibatkan diri dan hati kita shaleh dengan sebab perilaku baik orang shaleh yang dapat kita lihat dan tiru.

Kita bergaul dengan orang shaleh akan kecipratan shalehnya dan akan merubah perilaku kita.

Apalagi bergaul dengan ulama yang shaleh sangatlah mempengaruhi diri dan hati kita. Memandang mereka saja sudah menenangkan hati, apalagi kita mendengarkan serta menerima ilmu dan nasihat mereka.

Jangan pernah menjauh dari pergaulan ulama dan orang shaleh. Bisa jadi hati kita hampa dan kehidupan kita beradulan mungkin disebabkan jauhnya kita dari ulama dan orang shaleh.

Itulah lima obat hati yang disodorkan oleh Imam Ibrahim bin Ahmad al-Khawwash.

Semoga kita bisa menjaga kesehatan jasad dan hati kita.

Faiz Aidin
Dilahirkan tanggal 25 Juni 2000 di Jakarta Barat, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan H. Muharifin dan Hj. Nurhayati, bertempat tinggal di jalan raya Kembangan, Kembangan Utara Rt 09/02 No. 83 Gang H. Naim, Kembangan, Jakarta Barat. Mahasantri Darus-Sunnah angkatan Auliya dan mahasiswa PAI FITK UIN Jakarta. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.