Pendidikan, Pojok Pesantren

Santri Milenial Tampil Produktif, Kamu? #2

Mifta Dwi Kardo Written by Mifta Dwi Kardo · 2 min read

Majalahnabawi.com – Kemudian, bagaimana produktivitas santri hari ini dengan model kehidupan yang terbagi antara dunia maya dan dunia nyata? Diskursus santri dalam hal teknologi, seorang santri yang dapat beradaptasi ia akan memenuhi tantangan dalam pemanfaatan teknologi.

Kita temukan ada banyak channel-channel Youtube, Facebook dan akun-akun media sosial yang saat ini dipelopori oleh santri, seperti ceramah-ceramah hangat yang hadir dari para santri, pembelajaran-pembelajaran yang semakin memudahkan umat untuk memahami keadaan yang dapat diakses di mana pun dan kapan pun.

Santri pada zaman dulu diajari berpidato untuk berani berbicara di depan masyarakat, dan santri zaman now perlu diajari seni tulis menulis, sinematografi, fotografi, edit video, desain grafis yang saat ini sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sosial, karena menjadi santri produktif bukanlah pilihan atau pun tawaran.

Semua manusia dilahirkan untuk menjadi makhluk hebat, kata para ahli di bidang pembelajaran, semua manusia terlahir untuk menjadi genius asalkan otaknya tidak rusak atau ia tidak terserang penyakit.

Ungkapan ini didasari oleh sejumlah bukti ilmiah terkait cara kerja otak dan kedahsyatan kemampuannya. Malah kata Glenn Doman, seorang penulis buku tentang anak-anak, setiap bayi yang lahir memiliki potensi kecerdasan yang lebih besar daripada yang pernah digunakan oleh Leonardo Da Vinci.

Rata-rata manusia hanya menggunakan 5% dari kehebatannya. Orang genius seperti Einstein menggunakan tidak lebih dari 20% kehebatannya.

Produktifitas Lahir dari Proses Kreatif

Sebagaimana, kitab suci Al-Quran menjelaskan bahwa memang manusia itu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Ini merupakan sebuah isyarat yang mengandung makna yang luas. Tidak salah jika kita berkeyakinan bahwa semua manusia dilahirkan untuk menjadi sosok yang hebat.

Baca Juga:   Latar Belakang Adanya Hari Santri Nasional

Dalam pemikiran saya, hebat di sini ialah mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai atau berguna bagi dirinya atau orang lain yang sealur dengan makna produktivitas sosial.

Meskipun semua teori tentang peluang di dunia ini pasti tak bisa melewatkan pembahasan tentang peran kreativitas yang begitu tinggi. Bahkan bisa dikatakan bahwa peluang untuk produktif itu ada karena ada kreativitas. Praktik bisnis sejak zaman dulu sampai sekarang membuktikan hal itu. Menurut hasil riset, 86% kesuksesan bisnis di bidang apa pun tergantung pada kreativitas dan jaringan. Sisanya yang 14%, tergantung pada bahan-bahan yang ada (Sharpen Your Team’s Creativity: 1997).

Dengan sentuhan kreativitaslah, air minum yang selama bertahun-tahun dipandang bukan sebagai komoditas bisnis kini terjadi sebaliknya, produktivitas pabrik air minum semakin meledak. Produk obat yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai barang yang ditakuti oleh anak-anak, tetapi dengan kreativitas untuk menyajikannya dalam berbagai rasa yang disukai anak-anak, kini kenyataannya lain.

Dalam praktiknya, peluang itu lahir tidak harus disentuh dengan kreativitas yang sifatnya luar biasa. Bahkan sering kali sederhana. Cuma untuk menemukan yang sederhana ini butuh perjuangan, eksperimentasi dan inovasi (proses yang kreatif) agar bisa menjadi suatu produktivitas.

Sudah maklum bahwa manusia memiliki variasi sifat, yang produktif dapat dianalogikan dengan beberapa prinsip ini, di antaranya ialah menjadi seorang produsen agar kita menghasilkan banyak, kalau kita berjualan, profitnya usahakan besar, karena zuhud bukan berarti miskin.

Konsumsi sekedarnya, bagaimanapun kekayaan kita, hidup sederhana saja, tetaplah berhemat, hindari membeli hal yang tidak penting, harus bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, jangan menunggu miskin baru mau hemat. Jalin distribusi yang luas, menyikapi keduanya, perbanyaklah harta untuk sesama, donasi, sedekah, atau kebermanfaatan untuk orang lain, agar apa yang kita miliki menjadi berkah.

Baca Juga:   KH. Romzi; Santri Kinasih Kiai Maimoen Zubair

Kapan Harus Memulai?

Rasanya sedikit kurang komplit jika menyediakan materi tanpa model penerapan, sekilas kehidupan orang yang produktif ialah dapat mengatur waktu, tapi tidak jarang waktu yang sudah diatur menjadi tidak teratur dalam artian no sense atau tidak berguna.

Maka mulailah dari yang terkecil yang dapat dijangkau, seperti membiasakan untuk tidak merebahkan badan, olahraga ringan sambil mendengar podcast, meditasi guna menenangkan diri, membuat rencana atau to do list baik harian, bulanan ataupun tahunan, baik dalam hal prestasi di tingkat nasional maupun internasional, membaca buku untuk memperluas wawasan, menyelesaikan tugas, memperhatikan kondisi akal, karena selain tubuh akal juga membutuhkan nutrisi.

Tempelkan rancangan kegiatan di tempat yang sering dilihat seperti meja belajar, dan bagus lagi jika ditambahkan di smartphone. Sebuah genealogi, bahwa orang yang sukses dunia akhirat rata-rata mereka adalah orang yang bangun lebih awal lalu shalat tahajud dilanjut shubuh dan dhuha, serta bersedekah. Lantas, beranikah kita untuk mulai menjadi orang yang di atas rata-rata?.

Written by Mifta Dwi Kardo
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.