Fikih

Urutan Wali Nikah

Alfin Haidar Ali Written by Alfin Haidar Ali · 1 min read
nikah

Dalam melangsungkan pernikahan, terdapat aturan yang telah ditentukan oleh syariat. Tujuannya jelas, untuk menjaga nasab keturunan agar sesuai dengan maksud dan kehendak sang Syari (Allah).

Dalam kitab–kitab fiqih, para ulama kita telah merumuskan ada lima rukun yang harus terpenuhi untuk melangsungkan akad pernikahan. Lima rukun tersebut adalah: wali, dua orang saksi, shighat, calon mempelai laki–laki dan perempuan. Artikel singkat ini akan menjelaskan urutan perwalian dalam pernikahan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya ketika melangsungkan pernikahan itu yang membutuhkan wali adalah calon mempelai wanita, bukan laki–laki. Para ulama fiqih sudah banyak membahas persoalan ini, diantaranya adalah Syekh Muhammad bin Qosim al–Ghozi dalam karyanya Fath al-Qarib.

Urutan Wali Nikah

Beliau menerangkan bahwasanya urutan yang boleh menjadi wali secara berurutan adalah :

1. Bapak

2. Kakek hingga ke atas apabila wali yang lebih dekat tidak ada

3. Saudara sebapak

4. Kepoonakan dari saudara sekandung

5. Paman

6. Anak paman (sepupu)

7. Pemerdeka budak

8. Hakim (Pengadilan)

Berdasarkan ketentuan di atas, apabila wali yang lebih dekat tidak ada, maka wali nikahnya adalah urutan yang paling dekat setelahnya. Jadi, semisal bapak masih ada, maka bapak bisa menjadi wali nikah. Apabila bapak meninggal, maka boleh digantikan oleh kakeknya. Begitu pula seterusnya. Jadi jelas, harus mengutamakan yang lebih dekat terlebih dahulu.

Wali Nikah dalam Kitab Fath al-Qarib

Keterangan diatas diambil dari kitab Fath al-Qarib di bab nikah pasal kedua, sebagaimana berikut :

(وأولى الولاة) أي (أحق الأولياء بالتزويج الأب ثم الجد أبو الأب) ثم أبوه وهكذا ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد (ثم الأخ للأب والأم) ولو عبر بالشقيق لكان أخصر (ثم الأخ للأب ثم ابن الأخ للأب والأم) وإن سفل (ثم ابن الأخ للأب) وإن سفل (ثم العم) الشقيق ثم العم للأب (ثم ابنه) أي ابن كل منهما وإن سفل (على هذا الترتيب) فيقدم ابن العم الشقيق على ابن العم للأب (فإذا عدمت العصبات) من النسب (فالمولى المعتق) الذكر (ثم عصباته) على ترتيب الإرث أما المولاة المعتقة إذا كانت حية، فيزوج عتيقها من يزوج المعتقة بالترتيب السابق في أولياء النسب، فإذا ماتت المعتقة زوج عتيقتها من له الولاء على المعتقة، ثم ابنه ثم ابن ابنه (ثم الحاكم) يزوج عند فقد الأولياء من ذلك

“Hak perwalian yang  pertama ialah bapak/ayah, kemudian kakek, lalu buyut laki–laki hingga keatas (dan didahulukan kakek yang lebih dekat daripada yang jauh). Kemudian saudara sekandung, lalu saudara sebapak, keponakan sekandung, keponakan sebapak begitu seterusnya hingga kebawah, lalu paman kandung, paman seayah, kemudian anak masing–masing dari paman sekandung dan seayah. Ketentuan ini wajib secara urut. Maka keponakan paman sekandung didahulukan daripada ponakan sebapak. Apabila ahli waris ashobah (yang telah disebutkan diatas) tidak ada, maka hak perwaliannya adalah pemerdeka budak laki–laki (sayyid) kemudian ahli waris ashobah. Adapun perwalian pemerdeka budak perempuan (sayyidah) apabila ia masih hidup, maka sayyid menikahkan budaknya kepada orang yang akan menikahi budak perempuannya secara urutan yang telah dijelaskan pada urutan wali secara nasab. Apabila sayyidah mati, maka orang yang memerdekakan sayyidahnya menikahkan pada budak perempuan tersebut, lalu anak–cucunya. (terakhir) adalah hakim yang menikahkan ketika tidak ada wali dari ketentuan diatas.”

Wallahu a’lam. Sekian. Terima Kasih.

Written by Alfin Haidar Ali
Mahasantri Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.