Hadis

Pesan Nabi Saw ketika Haji Wada’

Penulis: Rini Yulia · 3 min read

majalahnabawi.com – “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Begitulah kutipan dalam QS. al-Maidah ayat 3, penutup wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Saw ketika haji Wada’.

Peristiwa haji Wada’ terjadi setelah peristiwa penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah) pada tahun 10 H. Saat itu, ajaran Islam sudah disampaikan oleh Nabi Saw secara sempurna, kaum muslimin sudah bertambah banyak dan wilayah kekuasaan Islam pun sudah tersebar luas ke seluruh Jazirah Arab. Pada saat itulah, Nabi Muhammad Saw mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa beliau akan melaksanakan ibadah haji.

Disebut haji Wada’ karena haji tersebut merupakan haji terakhir yang dilaksanakan oleh Rasul Saw bersama kaum muslimin, haji perpisahan antara Rasulullah Saw dengan umat yang sangat dicintainya. Hal itu karena beberapa bulan sepulang dari haji wada’, kesehatan Rasul Saw menurun hingga akhirnya wafat pada 12 Rabiul Awwal 11 H setelah sakit selama 13 hari.

Bisri M. Djaelani dalam bukunya Sejarah Nabi Muhammad Saw menyebutkan bahwa jumlah kaum muslimin yang berhaji bersama Rasul saat haji Wada’ 124.000 orang, di antaranya ada yang berjalan kaki dan mengendarai unta.

Pada saat itu, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah haji Wada’ kepada kaum muslimin di atas unta merah.

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ نُبَيْطٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَلَى جَمَلٍ أَحْمَرَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ الصَّلَاةِ 

“Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Salamah bin Nubaith dari ayahnya, ia berkata; saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di atas unta merah di Arafah sebelum melakukan shalat.” (HR. al-Nasa’i)

Khutbah Nabi pada Haji Wada’

Beliau berkhutbah yang bunyinya:

أَيُّهَا النَّاسُ، اسْمَعُوْا مِنِّي قَوْلِيْ، فَإنِّيْ لاَ أَدْرِيْ، لَعَلِّيْ لاَ أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِيْ هَذَا، فِيْ مَوْقِفِيْ هَذَا، أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ إلى أنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ، كَحُرمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا في شَهْرِ كُمْ هَذَا في بَلَدِكُم هَذَا وَإِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ فَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَعْمَالِكُمْ وَقَدْ بَلَغْتُ ، فَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيٌؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتمَنَهُ عَلَيْهَا، وَإِنَّ كُلَّ رِبًا مَوْضُوْعٌ وَلَكِنْ لَكُمْ رُءُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ ، وَقَضَى اللهُ أَنَّهُ لَا رِبًا ، وَإِنَّ رِبًا عَمِّيْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ مَوْضُوْعٌ كُلَّهُ وَأَنَّ كُلَّ دَمٍ كَانَ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دِمَائِكُمْ أَضَعُ دَمَ عَامِرِ ابْنِ رَبِيْعَةَ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، فَهُوَ أَوَّلُ مَا أَبْدَأُ بِهِ مِنْ دِمَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَإنَّ مآثرَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعَةٌ غَيْرُ السَّدَانَةِ وَالسِّقَايَةِ وَالْعَمَدُ قَوَدٌ ، وَشَبَّهَ الْعَمَدُ مَا قَتَلَ بِالْعَصَا وَالْحَجَرِ وَفِيْهِ مِائَةُ بَعِيْرٍ فَمَنِ ازْدَادَ فَهُوَ مِنَ الْجَاهِلِيَّةِ.

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ مِنْ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ أَبَدًا وَلَكِنَّهُ إِنْ يُطَعْ فِيْمَا سِوَى ذَلِكَ فَقَدْ رَضِيَ بِهِ بِمَا تَحْقِرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمء فَاحْذَرُوْهُ عَلَى دِيْنِكُمْ

أَيُّهَا النَّاسُ ﴿ إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ إنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ و﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً ﴾ مِنْهَا أَرْبَعَةُ حُرُمٍ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَةٌ وَرَجَبُ مُضِرٌّ، الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادَىْ وَشَعْبَانَ.

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ لِنسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، ولَكُمْ عَلَيْهِنَّ حَقٌّ، لَكُمْ عَليْهِنَّ أَلَا يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ غَيْرَكمْ وَلَا يُدْخِلْنَ أحَداً تَكْرَهُوْنَهُ بُيُوْتَكُمْ، وَلَا يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَذِنَ لَكُمْ أَنْ تَهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَتَضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرَّحٍ فَإِنِ انْتَهَيْنَ فَلَهٌنَّ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَاسْتَوْصُوْا باِلنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ لَا يَمْلِكُنَّ لِأَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا، وَإِنَّكُمْ إِنَّمَا أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَاتِ اللهِ فَاعْقِلُوْا أَيُّهَا النَّاسُ قَوْلِيْ،

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّماَ الْمُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ ، فَلاَ يَحِلُّ لِامْرِىءٍ مَالُ أَخِيْهِ إِلاَّ عَنْ طَيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ، أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلاَ تَرْجِعُنَّ بَعْدِيْ كُفَّاراً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ فَإِنِّيْ قَدْ تَركْتُ فِيْكُمْ مَا إنْ أخَذْتُمْ بِهِ لَمْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ، كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ ، أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ وآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، إِنَّ أَكرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أتْقَاكُمْ وَلَيْسَ لِعَرَبِيٍّ فَضْلٌ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلاَّ باِلتَّقْوَى، أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ” قَالُوا: نَعَمْ قَالَ: فلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله!

Menjaga Harta, Jiwa, dan Kehormatan Muslim

Wahai manusia sekalian! perhatikanlah kata-kata ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi akan bertemu dengan kamu sekalian.

Wahai manusia sekalian! Sesungguhnya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Pasti akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini! Barang siapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.

Ketahuilah bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh ada lagi riba dan bahwa riba Abbas bin Abdul Muthalib semua sudah tidak berlaku. Bahwa semua tuntutan darah selama jahiliyah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib. Dulu ia mencari wanita yang menyusui di Bani Laits lalu ia dihabisi oleh orang-orang Huzail. Dia lah yang pertama kali kuhapuskan darahnya pada masa jahiliah.

Kemudian dari pada itu wahai manusia! Hari ini nafsu setan yang minta di sembah di negeri ini sudah putus untuk selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walaupun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik. Wahai manusia sekalian! Menunda-nunda larangan di bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat.

Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lainnya mereka sucikan, untuk di sesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang di sudah dihalalkan. Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan menurut Tuhan ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban.

Penuhi Semua Haknya

Kemudian dari pada itu wahai manusia! Sebagaimana kamu punya hak atas istri kamu, juga istrimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak mengizinkan orang yang kamu tidak sukai menginjakan kaki di atas rumahmu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau mereka sampai melakukan itu Tuhan mengizinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan satu pukulan yang tidak sampai menyakiti. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan dan pakaian kepada mereka dengan baik. Berlaku baiklah terhadap istri-istri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka di halalkan buat kamu dengan nama Tuhan. Perhatikanlah kata-kataku ini, wahai manusia! Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang teguh kamu tidak akan sesat selama-lamanya; Kitabullah dan sunnah Rasul.

Baca Juga:   Hukum Haji Berkali-kali

Wahai manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semuanya bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) darai saeudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri. Ya Allah, sudah kusampaikan? Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: “Ya!” Lalu Nabi berkata: “Ya Allah, saksikanlah ini!”

Inti dari Khutbah Haji Wada’

Inti dari khutbah haji wada’ yang disampaikan oleh Nabi Saw tersebut adalah

  1. Larangan membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain tanpa hak
  2. Kewajiban untuk meninggalkan kebiasaan kaum Jahiliyah mengenai pembunuhan dan riba
  3. Mewaspadai gangguan setan
  4. Kewajiban menjaga agama
  5. Larangan mengharamkan yang dihalalkan dan sebaliknya
  6. Kewajiban memuliakan wanita (istri)
  7. Kewajiban berpegang teguh kepada Al-Quran dan aL-Sunnah
  8. Kewajiban taat kepada pemimpin selama dia berpegang teguh kepada al-Quran
  9. Kewajiban berbuat baik kepada hamba sahaya
  10. Umat Islam adalah bersaudara satu sama lain
  11. Kewajiban menyampaikan khutbah Rasulullah Saw kepada orang lain.

Disempurnakan Agama dan Nikmat

Pada peristiwa ini juga turun QS. al-Maidah: 3, wahyu terakhir yang turun kepada Nabi Saw yang mengisyaratkan bahwa agama telah sempurna disampaikan oleh Nabi Saw dan keridhaan Allah terhadap Islam.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِه وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Rini Yulia
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences 2020 dan Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2019 Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.